Tak terasa, aku sudah skip menulis selama 4 hari. Hari ini hari memasuki hari kelima dan aku memutuskan kembali menulis. Isi kepala yang terlalu berisik, membuatku enggan atau bahkan tak mampu menuliskannya dalam bentuk kata. Terucap pun seperti tercekat di tenggorokan. Hari-hari terasa semakin berat. Mungkin musabab iman juga sedang dilanda badai. Tidak sekokoh gedung-gedung pencakar langit. Hanya seperti seutas benang yang dihembuskan oleh angin pantai.
Banyak sekali yang terjadi. Konflik batin dan pikiran yang berkecamuk di kepala. Kadang membuatku salah mengetik, sebab isi kepala dan apa yang ingin diketik seperti tidak sinkron. Semakin tidak betah berlama-lama di rumah. Semakin khawatir dengan masa depan. Semakin merasa tidak siap menikah. Semakin merasa mundur dari langkah yang sudah kutempuh beberapa meter.
Perjalanan kali ini, rasanya dibawa mundur oleh waktu. Alih-alih berjalan menuju mimpi, justru rasanya semakin jauh. Beberapa hal dimudahkan, tapi dalam waktu yang sama selalu menemukan kesulitan yang lain. Apakah aku tidak pantas mendapatkan kelapangan di beberapa hal yang kusemogakan secara bersamaan? Kenapa harus saling bergantian?
Tiada hari yang absen tanpa air mata. Hingga bangun pagi rasanya dibayangi oleh ketakutan dan ketidakjelasan. Tidur larut malam sudah menjadi langganan. Air mata menetes tanpa melihat waktu. Tak hanya di jam-jam rawan seperti jam 10 malam ke atas, tapi juga menyusup di jam-jam produktif siang hari. Rasanya lelah sekali dengan kesedihan yang tidak berujung ini. Semua yang kulakukan adalah bentuk menolak dari rasa pedih yang seharusnya kuterima dengan baik.
Hidup semakin tidak worth it untuk dilanjutkan. Menunggu satu persatu harapan terwujud, bak pungguk merindukan bulan. Lagi-lagi, pertanyaan "Kenapa saya?" terlontar juga. Padahal aku pun sudah tahu, tak selamanya jawabannya ditemukan sekarang.
Belum lagi mendengarkan perdebatan panjang kedua orang tua yang sibuk membicarakan masa depanku. Ah, goblok Salma! Aku merutuki diriku berkali-kali. Seharusnya aku bisa menjadi seseorang yang lebih dari sekadar membuka laptop seharian di kamar, atau manusia yang tidak tahu ingin berbuat apa di pagi hari. Narasi-narasi produktifku hanyalah rencana semata. Sebab, kekuatan motivasi untuk melakukannya tidak ada, belum ada.
Pun, memikirkan tetap hidup karena semangkuk mie ayam, atau segelas sudah tidak menjadi penenangku lagi. Aku tetap kalut meski sampah gelas kopi yang kuhasilkan sudah cukup untuk dijual kembali dalam bentuk kiloan.
Apakah kejadian tahun lalu akan terjadi kembali? Sebab, yang kemarin belum benar-benar sembuh.
Aku harap, jangan dulu. Minimal tunggu aku jadi kaya, agar masih ada sedikit uang yang kusisihkan untuk konseling, tetap tidak semua uangku untuk konseling. Bahkan, kalau bisa, sembuh saja lah tanpa konseling. Dompetku akan lebih aman.
Malam yang kalut,
-slm
Kamis, 17 Juli 2025
Komentar
Posting Komentar