Langsung ke konten utama

Rapel Tulisan

Sudah dua hari aku libur menulis. Susah sekali memang untuk konsisten. Ya sudah, hukuman buatku yang absen untuk menulis adalah harus merapel tulisan dan mengkalikannya menjadi dua kali. Sudah dua hari absen, lantas harus menyelesaikan empat tulisan sekaligus ditambah satu tulisan yang memang sudah seharusnya dituliskan di hari itu. 

Aku mau menulis tentang Firdaus lagi, hahaha. Tadi kubiarkan ia bermain di kamarku. Menyusuri bawah meja, kasur, kemudian menggigit lenganku sampai berbekas. Dia terlihat bahagia sekali, lari kesana kemari, aktif, lincah. Sesekali ndusel ke lenganku, ke kepalaku, dan mencium jidatku. Kadang, kalau lagi cuek ya cuek sekali. Dipanggil tak pernah menoleh. Tetapi, jika sudah manja, ya manja sekali. Rasanya seperti disayang sekali oleh makhluk itu. Pengen kupeluk tiap saat walaupun kelakuannya terkadang seperti reog. Tidak bisa diam.

Ya, namanya juga sayang. Mau bagaimanapun kekurangannya, tetap diterima, kan? Ini soal kucing kok, hahaha.

 

-slm

Minggu, 6 Juli 2025 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kembali Menyapa

Lama sekali tidak kusambangi lorong-lorong tulisan kosongku, yang tersimpan di dalam draft-draft mangkrak. Aku membaca kembali, banyaknya luka serta syukur yang pernah kulewati. Satu hal yang kusadari, sejak dulu aku dengan setia memeluk lukaku sendiri. Luka yang harusnya segera diobati sejak dahulu kala, tapi aku seperti enggan berpisah dengannya. Ah, aku hanya ingin menulis sedikit saja. Musabab semua hal di kepalaku terasa menyiksa batin serta fisik. Banyak hal terjadi belakangan ini.  Tahu tidak, aku merindukan diriku ketika umur 13-14 tahun. Dimana hidupku saat itu dipenuhi oleh ambisi, mencoba banyak hal, bersemangat di banyak hal. Tidak seperti sekarang yang selalu menyerah dengan keadaan. Tidak ingin berlarut dalam keputusasaan, tapi kesedihan selalu muncul tatkala mentari sudah bersembunyi di ufuk barat. Menyiratkan sebentar lagi cahaya rembulan menggantikan tugasnya. Apalagi ketika temaram malam sudah mulai menyapa, dan kadang hujan turut bertandang menambah emosi yang ki...

Kucing Gemoy

Tidak ada inspirasi bermutu hari ini. Daripada sibuk mencari tema tulisan, aku ingin menceritakan padamu saja tentang kucing hitam-krem mujair yang sudah kurawat sejak sembilan tahun yang lalu. Namanya Firdaus. Sebagian orang pasti bertanya-tanya, "Kucing kok namanya seperti manusia sih?" Hahaha. Tentu saja. Dia seperti kuanggap manusia. Menjadi teman ngobrol, bermain, hingga aku pun bisa ngambek kepadanya. Musabab dia suka sekali menggigit lenganku, kepalaku, hingga kakiku dengan gemas. Bukan gigitan emosi, namun hanya gemas. Tapi tetap saja, rasanya sakit karena giginya yang tajam itu. Umur sembilan tahun bukan umur yang muda untuk seekor kucing. Sudah dibilang tua. Tapi tingkah kucingku tak seperti tua. Masih suka bermain dan aktif. Alhamdulillah. Dia adalah makhluk kecil yang menjadi penghangat di keluargaku. Tatkala sedih karena ayah ibuku berargumen panas, aku bisa memeluknya sembari menangis. Kehadirannya sungguh menjadi pelengkap dan aku sangat menyayanginya. Dia buka...

Mencintai Harus Memiliki?

Mencintai dan patah adalah satu paket yang tak terpisahkan. Tidak mungkin sekadar patah, tanpa mencintai. Pun, tak mungkin sekadar mencintai, tanpa risiko patah. Terkadang seseorang hanya siap dalam mencintai, tapi tidak siap terluka, patah, kecewa. Padahal keduanya bak sebuah dua sisi mata uang. Sepaket, tidak bisa saling terlepas. Jadi, ketika siap mencintai, maka juga harus siap terluka, bahkan kehilangan. Kehilangan ya? Kehilangan. Mungkin tema tulisanku hari ini tak jauh dari kata "Kehilangan".   Kehilangan. Sebuah kata yang menggambarkan lepasnya kepemilikan dari si pemilik. Ketika memiliki buku, lantas buku tersebut hilang, berarti kehilangan buku. Ketika mempunyai ponsel, kemudian ponsel tersebut hilang, maka kehilangan ponsel. Atau, ketika mencintai seseorang, menikahinya, kemudian dia pergi, lantas disebut kehilangan sosoknya.    Tapi, benarkah kau kehilangan? Padahal kau tak benar-benar memiliki. Buku, ponsel, pasangan, semua itu bukan milikmu. Mereka hanya tit...