Langsung ke konten utama

Percobaan ke-N: Kerjakan Sampai Batas Kemampuan

Sesuatu yang sudah berulang kali dilakukan, selalu punya masa "pertama kali". Mengendarai motor misalnya. Kegiatan yang rutin dilakukan untuk mengantarkan diri pulang pergi bekerja, tentu punya masa pertama kali-nya. Mengendarai motor pertama kali, apakah tiba-tiba langsung bisa memacu gas dengan kecepatan 60 km/jam? Tentu tidak. Bahkan di tahap pertama kalinya mengendarai motor, masih disibukkan dengan penggunaan gas dan rem yang tidak seimbang, cara memarkir dengan baik, pun tidak jarang ada yang harus mengalami jatuh dari motor. 

Sama halnya dengan yang kulakukan hari ini. Pertama kali membuat salad sayur. Terdengar simpel, tapi yang namanya percobaan pertama, tidak semuanya langsung berhasil. Aku, yang sangat jarang memotong sayur, harus belajar bagaimana memotong sayur dengan benar. Meskipun beberapa kali menertawai diri sendiri, sebab bentuk sayur yang kupotong tidak ada yang sama. Mungkin kalau masuk masterchef, aku adalah peserta pertama yang pulang sebelum kompetisi tersebut dimulai.

Akan tetapi, adanya masa-masa pertama kali itulah yang membuat seseorang terus belajar. Mengevaluasi penyebab kegagalan pertama, kemudian mencoba lagi dengan cara lain di percobaan kedua. Apabila percobaan kedua gagal, maka mencoba lagi dengan cara berbeda di percobaan ketiga, dan seterusnya. Tidak ada batas untuk mencoba selama masih diberi kemampuan untuk terus mencoba. Hingga nanti, ada masanya berhasil dan mahir untuk melakukan hal tersebut. Entah berapa lama dan setelah berapa kali percobaan. 

Begitu pula dengan perjalanan hidup. Terus mencoba peluang-peluang, tanpa takut dengan percobaan pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya. Sudah mencoba mendaftar BUMN pertama kalinya, ternyata tidak berhasil. Tahun kedua, mencoba lagi, ternyata masih gagal. Mendaftar CPNS pertama kali, gagal juga. Setia dengan pekerjaan kantoran, gagal juga karena terdampak badai lay off. Mencoba berbisnis ketika kuliah, ternyata tidak berhasil dilanjutkan. Bahkan, mencoba rutin menulis pun ada masanya gagal. Entah tidak ada ide, atau ada saja satu hari yang terlewat untuk menulis. 

Sebenarnya, baru sedikit percobaan, tapi rasanya lelah ya? Rasanya seperti sudah berkali-kali mencoba dan tidak segera membuahkan hasil. Masalahnya, kita sama-sama buta, tidak tahu di percobaan ke berapa semua akan berbuah manis. Yang mampu dilakukan sekarang adalah terus mencoba, mengerjakan peluang-peluang di depan mata, sampai batas kemampuan diri dan sampai diri sendiri mengatakan "cukup". Bisa saja, di percobaan ketiga, keempat, kelima, tiba-tiba kita dapatkan hadiah indah itu. 

Tuhan tidak akan diam saja melihat makhluk-Nya bersusah payah dalam kebaikan. Selalu ada jalan untuk kebaikan. Selalu ada buah manis dari usaha yang dilakukan penuh kesungguhan.

 

-slm

Madiun, 9 Juli 2025 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kembali Menyapa

Lama sekali tidak kusambangi lorong-lorong tulisan kosongku, yang tersimpan di dalam draft-draft mangkrak. Aku membaca kembali, banyaknya luka serta syukur yang pernah kulewati. Satu hal yang kusadari, sejak dulu aku dengan setia memeluk lukaku sendiri. Luka yang harusnya segera diobati sejak dahulu kala, tapi aku seperti enggan berpisah dengannya. Ah, aku hanya ingin menulis sedikit saja. Musabab semua hal di kepalaku terasa menyiksa batin serta fisik. Banyak hal terjadi belakangan ini.  Tahu tidak, aku merindukan diriku ketika umur 13-14 tahun. Dimana hidupku saat itu dipenuhi oleh ambisi, mencoba banyak hal, bersemangat di banyak hal. Tidak seperti sekarang yang selalu menyerah dengan keadaan. Tidak ingin berlarut dalam keputusasaan, tapi kesedihan selalu muncul tatkala mentari sudah bersembunyi di ufuk barat. Menyiratkan sebentar lagi cahaya rembulan menggantikan tugasnya. Apalagi ketika temaram malam sudah mulai menyapa, dan kadang hujan turut bertandang menambah emosi yang ki...

Skripsi, Apa Kabar?

Awal Februari sudah mendengar kabar teman sekelas yang telah menyelesaikan skripsi dan baru saja selesai melaksanakan seminar hasil. Sedang aku, masih sibuk menentukan bagaimana caraku untuk memulai mengerjakannya. Januari awal, terakhir kali aku membuka draft skripsi yang membuatku mual itu. Meskipun sudah kuberi nama “skripsweet” di folder, tetapi tetap saja rasanya tidak ada manis-manisnya. Memang salahku, sejak menentukan judul sudah ada rasa berat hati dan keraguan. Judul yang bagiku terlalu kompleks, literatur yang tidak banyak, hingga proses pengambilan data yang lama. Membuatku berpikir dua kali untuk mengambil judul itu. Tapi, apalah daya dosen pembimbing meminta aku dan teman-teman seperbimbingan untuk penelitian dengan cara menanam. Hati kecilku berteriak ingin sebatas mengambil data sekunder. Yasudah, tak apa. Sedikit menyesal, karena aku yang tidak berani dengan pendapatku. Merasa tidak enak dengan dosen. Sekarang, ketika menjalaninya justru berat hati. Aduh, malas...

Menikah - Series Opiniku

Sedikit demi sedikit, aku tahu maksud pengalaman-pengalaman orang yang sering kudengar sebelumnya, tulisan-tulisan tentang perjalanan menikah seseorang, ataupun kisah-kisah yang bermunculan di berbagai platform media sosial tentang kehidupan sebelum menikah. Kata orang, menikah itu sekali seumur hidup, selamanya. Kata orang, menikah itu seperti judi. Kata orang, menikah itu seperti gerbang yang menentukan masa depan seorang perempuan apakah nantinya akan "cerah" atau justru "redup". Kata orang, memilih pasangan tidak hanya tentang dirinya tapi juga keluarganya. Satu persatu aku mulai memahami maksud dari itu semua. Menikah adalah perjalanan panjang yang sangat dilarang untuk salah dalam pengambilan keputusannya. Tidak seperti bekerja yang bisa resign kalau tidak cocok, menikah akan membuat seseorang terjebak "selamanya" dalam kondisi pernikahan itu. Maka dari itu harus dipastikan bahwa terjebak di kondisi yang nyaman, aman, tentram, tenang, bahagia. Bayang...